Cara Menghadapi Klien

cara menghadapi klien

Sebagai penyedia jasa kreatif, tentunya kita pernah dihadapkan pada banyak macam hal, yang berhubungan dengan client’s request. Atas nama kelangsungan usaha, kita tidak bisa berharap bahwa kita hanya akan menghadapi klien yang manis-manis aja. Karena, di luar sana, ada banyak macam klien yang siap untuk bekerjasama.. mulai dari macam klien yang baik, pengertian, teliti, cerewet, sampai ada juga yang diam, nggak banyak nuntut, tapi meledak-ledak di belakangnya.
Mengeluhkan mereka tentu bukan sesuatu yang bisa dibenarkan, karena biar bagaimanapun, mereka adalah “pembeli” yang memiliki ekspektasi terhadap barang dagangan kita. Kita harus bisa mengakomodasi berbagai macam keinginan, selama itu ada dalam MoU kerjasama.

Lalu bagaimana cara untuk menghadapi klien yang tuntutannya kadang nggak sejalan dengan apa yang kita rencanakan?

 

Tips Menghadapi Klien

Berikut adalah tips untuk menghadapi keadaan semacam itu. Dan tips ini bukanlah teori psikologis semata, yang belum tentu cocok bila diaplikasikan pada kondisi real kita.

  1. Nikmatin aja.. Ikutin kemauannya meski kadang kita kerepotan. Itu tergantung dengan kapasitas kemampuan kita. Harapannya, ketika mereka menganggap kita kooperatif, akan ada perasaan nyaman yang berdampak pada continuity.
  2. Bargain dengan menggunakan tingkat argumentasi tinggi. Berikan pemahaman tentang apapun yang mereka minta. Usahakan, pemahaman yang kita berikan itu acceptable bagi mereka.
  3. ‚ÄéCari “kelemahan” mereka untuk menutupi permintaan yang sekiranya nggak masuk akal. Biasanya, ada hal-hal yang disukai klien, tapi tidak masuk dalam list brief mereka. Mungkin karena sifatnya personal (di luar pekerjaan). Nggak ada salahnya buat memasukkan list favorit mereka dengan harapan, itu bisa ‘membuat mereka lupa’ pada tuntutan pertama mereka.
  4. Lihat MoU. Kita bisa berpegang pada ini kalau sekiranya ada yang terlalu dipaksakan.
  5. Jaga komunikasi. Dengan begitu, akan ada kedekatan personal, sehingga apa yang mereka mau bisa kita pahami tanpa harus melalu prosedur request. Sebaliknya, tingkat recognizement mereka terhadap kita sebagai vendor, sedikit banyak akan bergeser ke arah ‘partner’.
  6. Tanggung jawab pada profesi. Terlebih sebagai vendor, kita harus menyadari.. bahwa request mereka adalah sumber nafkah kita. Kalau sugesti itu kita pertahankan, apapun kondisinya, tidak akan menjadi sesuatu yang memberatkan buat kita.
  7. Silahkan berimprovisasi sendiri..
Baca Juga :  Ada Apa Dengan Musik di Soundcloud?

Semoga ada hal baik dari postingan ini yang bisa diambil, agar senantiasa bisa memberikan manfaat buat kita para kuli kreatif.

Tinggalkan Balasan